Skip to content
Tulisan Rumi
Go back

Mustahil

Tiga bulan yang lalu, gak pernah terlintas dipikiran gua, bahwa libur sepuluh hari yang gua dapat karena kelas dua belas ujian bakal berubah jadi sekolah dari rumah yang entah sampai kapan. Masalah pun berdatangan. Awal-awal sempat terasa kacau, walau sampai akhir pun tetap terasa kacau. Guru yang awalnya bersikap ramah di depan para murid di kelas berubah menjadi mengerikan dan menjengkelkan lewat tugas tugas-tugas aneh yang mereka berikan kepada para murid.

Gua sebagai murid yang biasa aja, tetep ngerasa perlakuan menyebalkan ini benar-benar kelewatan. Setelah melewati berbagai rintangan, mendaki gunung, melewati lembah, bernego dengan para elit kelas, dan bertanya di grup kelas yang terasa seperti kuburan, akhirnya berbagai tugas aneh bisa gua kerjakan dengan mep- tepat waktu. Ujian akhir pun telah gua lewati dan gua merasa bebas sebebas bebasnya dari segala beban dan akhirnya menikmati hidup gua. Awalnya gua berpikir begitu.

Beberapa hari selesai ujian akhir, gua mulai merasakan ada yang salah dalam hidup gua. Kepala gua pusing, mata gua merah, badan gua gak enak, dan perut gua serasa di aduk-aduk. Setelah di telusuri ternyata gua cuman masuk angin karena kebanyakan begadang main game dan nonton anime. Tapi, setelah sembuh pun gua masih merasa ada yang salah di keseharian gua. Bagaikan Indomie tanpa bumbu, bagaikan dunia internet tanpa netizen budiman, bagaikan Saitama yang bisa ngalahin musuhnya dengan satu pukulan, hidup gua bener-bener terasa hampa.

Awalnya sempat terpikirkan untuk punya pacar agar mengusir kehampaan hidup gua. Tapi niat tersebut langsung gua urungkan setelah mengingat gua gak ganteng-ganteng amat dan biasa aja. Saat merenung sambil rebaan di kasur, gua teringat salah satu kalimat menarik dari salah satu buku yang berjudul “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat” karya Mark Manson. Kurang lebih begini kalimatnya, “Hidup adalah rentetan masalah yang tak pernah ada habisnya,”. Setelah itu gua pun sadar apa yang kurang dari hidup gua, Yap yang kurang dari hidup gua adalah

Masalah

Masalah yang gua maksud di sini ialah kesibukan sehari-hari, dimana itu mencegah gua merasa gabut dan akhirnya malah mencari masalah dengan orang lain. Asal kalian tau, mecari masalah dengan orang lain itu beda lagi. Itu brengsek namanya. Gua menolak keras lu mencari masalah dengan orang lain seperti tiba-tiba komen gak jelas di postingan orang lain atau mulai bikin drama sampah di internet. Gua tegaskan, gua gak mendukung itu. Hidup tuh jangan nyusahin orang lain napa sih.

Tanpa gua sadari saat gua berfikir hidup gua kurang masalah, sebenarnya itulah masalah yang ada di hidup gua. Ribet banget emang, tapi itulah hidup. Gua pun sadar konsep tujuan hidup gua selama ini benar benar jauh dari kata nyata dan mustahil. Tujuan hidup gua adalah bersantai menikmati hidup gua dimana konsep di tujuan ini adalah hidup tanpa masalah. Gua sadar manusia bener bener gak bisa hidup tanpa masalah. Bagai kapten yang melihat badai akan datang, gua pun langsung banting setir dan membenahi konsep tujuan gua, dimana gua merubah bahwa gua bersantai dan menikmati hidup gua, ya karena gua punya masalah yang harus diselesaikan.

Jadi, apa inti tulisan random kali ini? Intinya adalah mustahil lu hidup tanpa masalah. Cuman ada satu cara biar lu gak pernah kena masalah lagi, yaitu mati. Kenapa? ya karena hidup lu udah selesai, berakhir, tamat, the end. Bagai menyelesaikan quest di game, kalau hidup lu punya masalah, ada sisi positif yang bisa lu ambil, seperti pengalaman hidup lu bertambah, hidup lu terasa lebih greget dan lain sebagainya. Jadi jalani aja hidup, tetep lakuin yang lu suka, jangan banyak mengeluh, jangan lari dari masalah, karena mustahil lu hidup tanpa masalah.


Share this post:

Previous Post
Bukan Orang Lain
Next Post
Masa depan