Skip to content
Tulisan Rumi
Go back

Masa depan

Semua orang memiliki masa depan, semua orang memiliki mimpi, semua orang memiliki tujuan, semua orang memiliki cita-cita, semua orang memiliki hal yang ingin mereka kejar dan raih. Ya, itu kata-kata yang mungkin terdengar terlalu klise dan mungkin makin lama terdengar makin menyebalkan, tapi itulah kenyataanya.

Saat kecil, gambaran kita akan masa depan sangatlah tegas, tapi tidak menjelaskan apapun. Dengan lantang dan penuh pecaya diri dengan muka bodoh kita, kita berbicara akan menjadi pekerja dengan profesi yang sangat berpengaruh bagi orang lain, entah itu dokter, guru, polisi, tentara, dan lain sebagainya. Ya namanya juga anak-anak, hanya mengatakan sesuatu yang terdengar keren dan naif.

Beranjak remaja, kata-kata penuh percaya diri itu entah menghilang kemana. Kita menjadi lebih realistis dan melihat bagaimana kenyataan akan kehidupan bekerja, walau mungkin masih sama naifnya seperti anak kecil. Kita menyadari diri kita sendiri dan lingkungan sekitar kita, walau tidak sebaik bagaimana orang dewasa lakukan. Termasuk diriku sendiri.

Melihat kenyataan, hanya membuatku berpikir, “Ah, mungkin aku akan hanya hidup seperti ini, belajar dengan baik, lulus dengan baik, mendapat pekerjaan yang baik, dan memiliki hari-hari yang baik. Tidak ada yang spesial, aku hanya ingin melakukannya secara biasa.” Begitulah masa depan yang kupikirkan, sampai ketika ku menonton anime yang berjudul ‘ReLife’.

Anime yang bercerita tentang seorang pengangguran yang bernama Arata Kaizaki, yang mendapatkan kesempatan untuk mengulang hidupnya dengan kembali menjadi anak SMA. Salah satu anime dengan cerita terbagus yang pernah kutonton, tapi bukan itu yang akan kita bahas disini.

Ada satu kalimat dari Kaizaki yang agak menggangu pikiranku. Bangun tidur kepikiran, pas mandi kepikiran, pas makan kepikiran, pas mau main kepikiran, mau tidur pun kepikiran lagi. Padahal hanya satu kalimat simple yang diucapkannya,

“Masa depan yang kuanggap akan datang seiring berjalannya waktu, ternyata semakin menjauh”

Benar-benar kalimat yang terdengar biasa saja, tapi cukup untuk membuatku kepikiran beberapa hari, bahkan terkadang sampai hari ini saja masih kepikiran. Kalimat tersebut cukup untuk membuatku bertanya-tanya, apakah yang kupikirkan tentang masa depan yang akan kuraih sudah tepat?

Masa depan tidaklah semudah yang kita bayangkan, tidak sekedar lulus, tidak sekedar bersosialisasi, tidak sekedar bermimpi, tidak sekedar belajar, tidak, masa depan tidak sesimple itu.

Setiap orang pasti memiliki masa depan, itu merupakan hal yang sudah jelas. Tapi akan bagaimakah masa depan tersebut nantinya? Aku pun masih memikirkan dan mencari jawabannya.

Apa yang harusku lakukan? Aku harus mulai dari mana? Bolehkah aku melangkah? Dengan diriku yang seperti ini, dengan waktu yang terus berjalan, apakah masa depan akan menghampiriku atau malah menjauhiku? Entahlah. Semua itu hanya memenuhi kepalaku, tanpa tidak ada satupun yang terjawab.

Jadi, bagaimana denganmu? Menurutmu, apakah masa depan akan menghampirimu? atau menjauhimu?


Share this post:

Previous Post
Mustahil
Next Post
Sebuah cara untuk bahagia