Manusia itu makhluk sosial. Kita ga bakal bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Emang udah dari sananya kita di setting begitu, bawaan pabriknya emang udah begitu. Kita hidup berdampingan dengan orang lain. Manusia tidak bisa hidup sendirian, kita semua tahu itu.
Tetapi terkadang kita salah mengartikan hal tersebut dan menjadikannya sebuah alasan untuk masuk terlalu jauh dalam kehidupan orang lain. Kita menggunakannya menjadi tameng demi kebebasan kita mengeksploitasi lebih jauh hidup orang lain. Kenyataannya memang ada orang-orang seperti itu di dunia ini. Jadi mari ku ingatkan satu hal,
Pada akhirnya kita semua hanyalah orang asing.
Gua orang yang terlalu peduli pada orang lain, dulunya begitu (atau mungkin sampai sekarang masih begitu). Saking pedulinya gua sama orang lain, terkadang gua tanpa sadar ikut campur terlalu jauh di dalam kehidupan mereka. Gua jadi orang yang sok tau dan merasa paling paham dengan keadaan orang lain. Dengan berlindung di balik label nama ‘Si pendengar yang baik’ gua mengulik terlalu jauh hidup orang lain, lagi dan lagi.
Hal terburuk dan tergoblok tentang ini adalah, gua lupa dengan hidup gua sendiri. Pada akhirnya gua terlalu mengurusi hidup orang lain, seakan mereka seseorang yang buta dan butuh tongkat untuk berjalan dan gua dengan ‘murah hati’ menuntun mereka berjalan, padahal orang yang buta di sini adalah gua sendiri.
Iya, tulisan diatas mungkin membuat kalian berpikir, “Emang kenapa berbuat baik sama orang lain? Apa salahnya? Gua ngebantu orang lain dan itu hal yang baik. Dimana salahnya?”. Tidak ada yang salah dari berbuat baik, tetapi yang jadi masalah adalah ketika kita berlindung di kata ‘berbuat baik’ dan melakukan hal yang menyebalkan yang bahkan kita sendiri tidak sadar. Tidak ada yang salah tentang membantu orang lain, tetapi yang jadi masalah adalah ketika kita membantu seseorang terlalu jauh.
Semua orang punya hidupnya masing-masing. Ibarat karakter utama dalam sebuah game, merekalah yang memulai dan mengakhiri cerita mereka sendiri. Kita hanyalah orang asing yang kebetulan ada dan masuk menjadi bagian dari cerita hidup mereka. Semua orang punya batas-batas privasi mereka sendiri. Batas-batas inilah yang tidak bisa kita lewati sebagai orang asing dalam hidup mereka. Mereka menyimpan sesuatu untuk diri mereka sendiri dan tidak akan memberitahukannya kepada orang lain sampai mereka merasa perlu melakukannya.
Mungkin setelah gua post tulisan ini, orang-orang di sekitar gua bakal bilang hal-hal seperti “Lu ngapain sok deket? Kita kan cuman orang asing”, atau ejekan lainnya. Peduli setan dengan ejekan atau apapun. Kukatakan sekali lagi dengan jelas. Kita hanya orang asing di kehidupan orang lain. Dan orang lain hanyalah orang asing di kehidupan kita. People come and go itu cuman versi halusnya.
Ini pengingat, bukan untuk orang lain tapi untuk diri gua sendiri. Sebaik apapun diri lu, pada akhirnya lu cuman orang asing. Lu ga punya hak apapun. Lu bukan siapa-siapa. Lu ga bisa atur mereka. Lu ga bisa ikut campur terlalu jauh. Dan sebaik apapun orang lain pada lu, pada akhirnya mereka cuman orang asing. Mereka ga selamanya ada. Mereka bukan fokus utama lu. Mereka bukan siapa-siapa.
Gua ga nyuruh lu berhenti berbuat baik. Tetaplah berbuat baik, tetap jadi diri lu sendiri. Gua cuman pengen lu inget, kita punya batasan. Entah itu untuk diri sendiri, maupun orang lain.